Pengalaman Mudik Pertama

1. Perjalanan hingga sampai kota Bojonegoro

     Sabtu 18 Agustus 2012. Pukul 7 mobil kami telah siap untuk berangkat meninggalkan hiruk pikuk kota Surabaya. Aku Jerry mahasiswa yang mencoba mencatat perjalanan liburannya untuk suatu saat dikenang. Mobil kami melaju bersama rombongan mobil Tante Ita menuju Kota Bojonegoro. Tante Ita adalah teman perantauan mama di Pulau Madura. Meskipun mereka bekerja di tempat berbeda, (mama berada di instansi pemerintah. Sedangkan Tante Ita bekerja di salah satu operator seluler yang dalam iklannya gencar mempromosikan telepon gratis tiga hari tiga malam). Mereka mempunyai hobi yang sama yaitu “BELANJA”. Itulah yang membuat mama dengan Tante Ita begitu akrab sehingga mengajak kami mudik ke kampung ibunya di Bojonegoro. Mobil kami berisi saya, mama, Bio, Jasmine, Bella,Om Agus, Tante Indah, dan Tante Anna. Awal perjalanan, mobil kami terasa sepi. Maklum kami sebelumnya belum mengenal satu dengan lainnya. Bio dan Jasmine adalah anak dari Tante Ita mereka terlihat pendiam. Bella (bukan bella komunikasi UNAIR angkatan 2011)  adalah anak dari tante yang sampai saat ini saya belum tahu namanya. Om Agus dan Tante Indah adalah adik kandung dari tante Ita, dan Tante Ana adalah adik paling bungsu dari keluarga Tante Ita. Jadi kalau dibuat kesimpulan Tante Ita adalah tiga bersaudara. Tante Ita adalah anak sulung, tante Indah adalah anak kedua, dan tante Anna adalah yang paling bungsu. Cukup dulu perkenalannya. Kembali ke cerita. Mobil kami melaju kencang di jalan tol arah ke kota Gresik. Jalanan masih lenggang tidak ada kemacetan. Terasa aneh karena pada hari esoknya sudah masuk hari raya Idul Fitri yang biasanya jalan begitu macet. Suasana dalam mobil belum mencair. Tetap saja kami diam – diaman. Hanya sedikit percakapan yang kami kerjakan. Terasa aneh bagi saya, karena bagaimana bisa seorang mahasiswa ilmu komunikasi seperti saya tidak bisa komunikatif mencairkan suasana.

     Perjalanan kembali dilanjutkan. Tidak pernah terbayangkan seperti apa kota Bojonegoro. Maklum, saya jarang sekali pergi ke luar kota. Yang terbayang malah kota Tuban. Kota dimana teman kampusku berasal. Tante Anna yang menyupir mobil kami. Beriringan dengan mobil Tante Ita yang ada di belakang. Dilihat dari samping Tante Anna cukup cantik. Mengingatkan saya pada dosen pembimbing saya di kampus yang sebelas dua belaslah mukanya. Bukan untuk gombal, bukan gejala Oedipus Complex (*Pria yang menyukai wanita yang lebih tua) tapi memang itu jujur dan benar adanya. Lupakan masalah rupa. Jarak Surabaya – Bojonegoro sekitar 113 km. Jika dalam keadaan menyetir santai, kami bisa sampai sekitar pukul setengah sebelas pagi.

     Cerita menggelikan tercipta saat kami sampai di kota Gresik. Setelah kami mengisi bahan bakar, di sisi kiri rombongan kami berjejer lapak buah yang terlihat begitu menggiurkan. Tertulis “Duku Rp.6000,- “ bagi kami harga tersebut cukup murah. Mengingat beberapa waktu lalu mama beli dengan harga yang jauh lebih tinggi untuk satu kilonya. Kamipun tertarik membeli. Dan ternyata apa. Para penjual buah ternyata lebih dahulu belajar tentang komunikasi pemasaran yang sampai saat ini belum saya dapatkan di bangku kuliah. Mereka dengan jeli menuliskan ½ kg begitu kecil di sebelah tulisan “Duku Rp.6000,-“. Ternyata persepsi awal yang kita terima berbeda dengan persepsi para pedagang buah. Akhir cerita di lapak buah kami membeli Duku dengan harga 12.000 per kilonya. Sama saja dengan membeli duku di pasar swalayan. Salut untuk pedagang buah dengan caranya memasarkan buah dagangannya.

     Tidak terasa kami sudah sampai di kota Babat. Tiga per empat perjalanan telah kita lewati. Saya baru tahu ternyata kota ini menghasilkan makanan yang begitu khas yaitu Wingko Babat. Dari dulu saya pikir Babat adalah semacam pabrik atau perusahaan pembuat Wingko dari Semarang. Sebab dari dulu yang saya tau Wingko adalah makanan khas dari Semarang. Lupakan ketidak tahuan saya. Jalan di kota Babat cukup padat. Mobil melaju dengan kecepatan rendah.

     Jam di mobil menunjukkan angka 10.30. Ternyata mobil kami belum tiba di Bojonegoro. Prediksi kami ternyata meleset. Perut mulai terasa keroncongan. Tapi yang menjadi soal adalah hari ini adalah puasa terakhir. Saya adalah seorang non-muslim bersama mama. Jadi baru kali ini saya ikut mudik. Dan lucunya mudik bersama keluarga orang lain. Dengan sebelumnya meminta izin rombongan satu mobil, kamipun memakan roti yang sudah dipersiapkan dari Surabaya. Sungguh indahnya persaudaraan ditengah perbedaan. Akhirnya kamipun sampai di kota Bojonegoro. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Bojonegoro pada saat itu cukup panas dan terik. Bengawan Solo yang melintas di Bojonegoro terlihat dangkal. Meskipun demikian kami telah sampai. Inilah Bojonegoro. Kota yang sebelumnya belum pernah saya singgahi. (RYE)

Lanjut ke bagian 2. Indahnya Malam Kemenangan di Bumi Bojonegoro…..

Coming Soon……

Leave a comment

Filed under Review dan Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s