Pengalaman Mudik Pertama (2)

2. Indahnya Malam Kemenangan di Bumi Bojonegoro part .1

     Terima kasih masih memperhatikan catatan perjalanan liburan saya. Mengulas cerita sebelumnya, saya sudah sampai di kota Bojonegoro. Mobil kami mulai menyusuri jalanan Bojonegoro yang cukup lenggang. Terlihat di kanan kiri jalan berjajar toko yang tutup karena libur lebaran. Akhirnya sampailah kami tiba di rumah ibu dari tante Ita. Model rumah joglo khas rumah Jawa lama. Rumah yang kami singgahi sangat luas. Bisa dimaklumi karena nenek moyang dari Tante Ita adalah seorang carik. Kalau pada masa sekarang mungkin setingkat dengan camat. Terletak sebelah barat dari pusat kota Bojonegoro tepatnya di Kecamatan Kalitidu, Desa Plungpungan. Saya menyukai suasana yang pada saat itu saya rasakan. Hamparan sawah, suasana pedesaan, rumah lawas yang masih nyaman untuk disinggahi. Tapi satu yang membuat saya tidak suka dan membuat saya pusing bukan main untuk mencarinya. Teknologi yang saat ini kita sebut sinyal. Ya sinyal. Sebelum saya meninggalkan Surabaya, saya masih mempunyai tanggungan artikel yang deadlinnya semakin dekat. Saya diwajibkan untuk mengirimkannya sebelum batas akhir yang ditentukan. Mungkin saya mengalami apa yang saya pelajari di mata kuliah tekomas (teknologi komunikasi masyarakat) yang dinamakan Technology Determinism. Untuk urusan internet, saya mengandalkan modem CDMA  yang katanya handal di ratusan kota di Indonesia. Ternyata modem yang selalu menjadi sahabat saat menyelesaikan tugas kuliah sedang tidak bersahabat. Sama sekali tidak ada sinyal yang didapat. Ketika saya harus menulis,mencari,dan mengirim artikel menjadi lebih berat. Teknologi yang menyetir saya, hingga sayapun harus gigit jari belum bisa mengirim artikel tanggung jawab saya. Lupakan masalah artikel.

     Waktu menunjukkan  12.30. Cuaca Bojonegoro saat sekarang panas dan terik. Musim kemarau panjang membuat sawah padi yang ada di sekitar rumah menjadi kering. Beruntung pada saat itu salah satu saudara dari keluarga tante Ita harus kembali ke Madiun. Akhirnya ikutlah kami mengantar paman yang sampai sekarang ini namanya tidak saya kenal. Kami mengantar beliau ke terminal yang pada saat itu lenggang. Sepulangnya dari terminal, sekali lagi perut saya tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya berhentilah kami di salah satu rumah makan di depan stasiun kereta api. Nama rumah makan tersebut bernama “Aries” (CMIW jika terjadi kesalahan penulisan). Disana kami hanya membungkus makanan untuk dimakan dirumah. Selain itu untuk menghormati Om Agus yang pada kali ini menyetir. Om Agus kali ini bukan om Agus suami tante Indah. Kali ini yang menyetir adalah Om Agus lain. Om Agus  sekarang adalah Agus suami dari tante Ita. Lucu juga kalau dipikir. Akan bingung jika kedua Agus pada posisi yang sama dan harus dipanggil. Pada cerita selanjutnya Om Agus istri dari Tante Indah saya panggil sebagai om arsitek. Sebab memang itulah pekerjaan yang digeluti om Agus di Denpasar, Bali. Dan Om Agus dari Tante Ita tetap saya panggil Om Agus.

     Kamipun kembali kerumah. Mama masuk kembali ke dalam kamar untuk beristirahat. Saya yang pada saat itu masih semangat – semangatnya memutuskan untuk menyusuri jalanan desa. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Setelah meminta izin saya pun menjadi bocah petualang yang kurang kerjaan. Jalanan yang ada adalah jalan makadam. Sangat berbeda dengan jalan yang ada di Surabaya yang telah halus diaspal. Pernah dulu jalan ini diaspal. Tapi itu dulu pada masa delapan puluhan. Hal lain yang saya temui adalah masalah kepedulian. Berbeda dengan di kota yang individualistis, orang – orang yang dijumpai masih tersenyum  dan menyapa saat saya memandang mereka. Saya menyusuri jalan tersebut. Ternyata jalan yang saya lalui cukup ramai. Ramai bukan dengan kendaraan tapi ramai dengan bendi yang berlalu lalang. Sungguh pemandangan yang jarang saya temui. 30 menit saya berjalan tanpa arah. Saya tiba di desa ngujo. Sebelah selatan dari desa Plungpungan. Disana kondisi sawah lebih baik. Tanahnya masih diair oleh air pompa. Memang saat itu Bojonegoro mengalami musim kemarau cukup panjang. Hal menarik yang saya temui adalah ternyata anak Alay semacam di kota Surabaya juga saya temukan. Dengan pakaian kekecilan berwarna ungu, sepeda motor brong tanpa knalpot ia ditemani oleh temannya berbaju hijau yang juga kekecilan. Tapi bedanya, mereka terlihat ramah pada saat saya lewat disebelah mereka. Ternyata saya salah persepsi pada pandangan pertama. Lupakan alay. Karena hari sudah cukup sore dan kondisi bau belum mandi saya berputar haluan kembali kerumah. Pada saat perjalanan pulang, saya kembali disambut keramahan anak kecil yang tersenyum kepada saya. Bukan karena GR karena merasa diperhatikan, saya malah merasa menjadi orang aneh. Apakah saya ternyata juga termasuk orang alay dengan pakaian berwarna kuning yang saya pakai hingga banyak yang tersenyum saat melihat saya. Singkat cerita saya sampai di rumah pukul lima sore dengan keadaan letih. Setelah sejenak beristirahat saya pun membersihkan diri. Bersiap mengalami pengalaman yang saya belum pernah saya rasakan sebelumnya. Malam kemenangan di Bumi Bojonegoro.(RYE) Bersambung…..

Lanjut ke bagian 3. Indahnya Malam Kemenangan di Bumi Bojonegoro part.2

Coming Soon……

Leave a comment

Filed under Review dan Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s