Blitar dan Pesona Yang Ditawarkan (Habis)

2. Blitar, Gudang Pemimpin Nasional

     Pada artikel kemarin saya telah menuliskan perjalanan saya di Gunung Kelud. Perjalananpun berlanjut. Estimasi kami kurang dari  2 jam kami sampai ke kota Blitar. Jalanan yang ditempuh mulai gelap. Tidak ada penerangan jalan yang cukup. Hanya cahaya mobil yang bisa menerangi kami. Dalam perjalanan kembali ada sebuah pemandangan yang menarik. Ternyata jalan yang kami pakai dibawahnya terdapat saluran untuk saluran larva Gunung Kelud. Hal ini menurut keterangan dari Tante Indah ( Yang berasal dari Blitar ) dikarenakan untuk mencegah meluasnya larva membanjiri sawah yang ada di sekitarnya.

     Pukul delapan malam kami sampai di kota Blitar. Setelah makan Soto Krepyek (CMIW jika ada kesalahan penulisan), kamipun mencari penginapan. Ternyata cukup susah mencari penginapan pada waktu itu. Saran untuk wisatawan yang akan mengunjungi Blitar. Pesanlah dahulu tempat anda akan menginap. Sebab, hotel – hotel di kota Blitar akan cepat penuh jika musim liburan tiba. Beruntung, setelah berkeliling kota Blitar kami menemukan sebuah hotel keluarga yang menyisakan kamar. Terletak di Jalan Dr.Moh.Hatta no.3, Blitar menginaplah kami di Hotel Maerokoco. Singkat cerita tentang hotel ini, hotel ini terletak kurang lebih 2km dari makam Bung Karno. Harga kamar yang ditawarkanpun cukup terjangkau. Dengan 120 ribu anda telah mendapat hotel dengan double bed, sarapan pagi, TV, dan kipas angin. Jika anda cukup mempunyai uang, anda bisa mendapatkan kamar dengan tambahan fasilitas AC dan air seharga 200 ribu per malam.

     Hari berikutnya kami lanjutkan dengan berjalan – jalan. Sasaran yang kami tuju adalah makam dari presiden pertama Ir.Soekarno. Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Meskipun demikian,  toko – toko yang menjual pernak – pernik wisata makam mulai dibuka. Saran kepada wisatawan yang ingin berkunjung ke Blitar, wisata makam sudah dibuka mulai pukul 8 pagi. Di toko – toko yang ditemui sepanjang jalan, pembeli bebas untuk menawar hingga mendapat harga yang sesuai. Akan lebih tenang jika membeli pada pagi hari. Sebab, penjual akan memberi diskon lebih bagi pembeli pertama. Dijual kaos, gantungan kunci, blangkon,gelas, dan masih banyak lagi. Pada saat itu kami memborong kaos bergambar Soekarno sebagai buah tangan. Harga yang ditawarkan mulai 30 ribu hingga 60 ribu Rupiah. Tidak dipungut biaya untuk masuk ke dalam makam. Sebelum kita masuk, kita disambut sebuah gapura yang menghadap ke selatan. Cungkup / tempat bung karno disemayamkan adalah berbentuk rumah joglo. Pada era orde baru, cungkup ini dikelilingi oleh pagar kaca. Saya ingat sewaktu masih saya berumur 7 tahunan, kami hanya dapat melihat jauh di area pelataran saja. Namun setelah zaman Gus Dus, kaca yang menjadi penghalang akhirnya dibuka hingga kita dapat lebih dekat melihat makam Bapak Proklamator kita. Diatas batu nisan Bung Karno terdapat tulisan : “Disini dimakamkan Bung Karno Proklamator Kemerdekaan Dan Presiden  Pertama Republik Indonesia. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.” Selain berziarah ke makam, terdapat fasilitas baru yaitu perpustakaan dan museum Bung Karno. Ada yang unik di tempat ini. Terdapat sebuah lukisan Bung Karno dimana jika kita perhatikan bagian jantungnya, seakan gambar itu hidup dan jantungnya terlihat berdetak. Museum ini menyimpan banyak foto – foto Soekarno, alat – alat bersejarah yang dipakai pada masa perjuangan, lukisan dan masih banyak lagi. Semua dikemas dengan apik sehingga berbeda dengan museum – museum pada umumnya. Kita bisa nyaman dan berlama – lama disana. Yang lain adalah perpustakaan Soekarno. Terletak di lantai 2, atas museum. Kita akan mendapati buku – buku sang proklamator, dan buku – buku lain yang memuat informasi tentang beliau.

     Sungguh menyenangkan berkunjung ke makam RI 1 pertama Indonesia. Kamipun mengakhiri ziarah singkat kami dan kembali ke penginapan. Di jalan, pikiranpun melayang. Dulu sampai sekarang, Blitar merupakan salah satu gudang pemimpin nasional. Bung Karno Presiden pertama RI dimakamkan di Blitar, panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dengan Kapolri Jendral Timur Pradopo juga berasal dari Blitar, bahkan Bapak wakil presiden kitapun berasal dari Blitar. Sungguh, kota kecil yang membesarkan bangsa Indonesia. Demikian perjalanan singkat kami di Blitar. Perjalanan yang sangat menyenangkan. (RYE)

Leave a comment

Filed under Review dan Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s